ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ANEMIA


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI

ANEMIA






















Disusun oleh:

INDAH AGUSTIN PRATIWI





S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN

UPN “VETERAN” JAKARTA

TAHUN AJARAN 2016/2017





KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya, makalah ini dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya. Makalah ini adalah tugas individu ketiga dalam mata kuliah Teknologi Keperawatan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu kelancaran tugas ini, terutama dosen Teknologi Keperawatan yang telah memberi banyak pengarahan serta ilmu kepada kami para mahasiswa.

            Semoga makalah yang saya buat ini, bermanfaat bagi pembaca. Saya juga mengharapkan kritik dan saran, supaya tugas selanjutnya dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya dan sesungguhnya semua itu bersifat membangun.

            Terima kasih.



Jakarta, 21 Mei 2017



Penulis



























                                                                                                                  

BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang

Anemia adalah suatu penyakit yang sering diderita oleh masyarakat, baik anak – anak, remaja, ibu hamil maupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, yaitu karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12 dan kelainan hemolitik.

Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita anemia tampak pucat, lemah, dan hasil lab di dapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari rentan normal.

  1. Tujuan

  1. Tujuan Umum
    Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem hematologi yaitu anemia.
  2. Tujuan Khusus

  1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian anemia.
  2. Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab anemia.
  3. Mahasiswa mampu menyebutkan klasifikasi anemia.
  4. Mahasiswa mampu menyebutkan tanda dan gejala anemia.
  5. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien anemia.











                                                                                                                                                                                                                                                                                               

BAB II

TINJAUAN TEORI



  1. Pengertian

  1. Anemia adalah suatu kondisi konsentrasi hemoglobin kurang dari normal, anemia merefleksikan jumlah eritrosit yang kurang dari normal didalam sirkulasi akibatnya  jumlah oksigen yang dihantarkan ke jaringan tubuh juga berkurang. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 12)
  2. Anemia merupakan kondisi klinis akibat kurangnya suplai sel darah merah sehat, volume sel darah, dan/ jumlah hemoglobin. (Keperawatan Medikal Bedah buku 3 edisi 8)
  3. Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit dibawah rentang nilai yang yang berlaku untuk orang sehat. (Behrman E Richard, IKA Nelson; 1680)
  4. Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hematocrit dibawah normal. Anemia bukan lah penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit (gangguan) fungsi tubuh. Anemia tidak merupakan suatu kesatuan tetapi merupakan akibat dari berbagai  proses patologik yang mendasari. (Smeltzer C Suzanne, Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner dan Suddarth; 935)

    B. Klasifikasi

  1. Anemia Megaloblastik
    Anemia ini disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 atau asam folat, perubahan sumsum tulang  identik dan perubahan darah perifer terjadi karena vitamin tersebut esensial untuk sintesis DNA normal.
  2. Anemia Aplastik
    Anemia aplastik merupakan penyakit yang jarang terjadi yang disebabkan oleh penurunan atau kerusakan sel induk sumsum tulang belakang, kerusakan pada lingkungan mikro didalam sumsum tulang, dan penggantian sumsum tulang dengan lemak.
  3. Anemia Sel Sabit
    Anemia sel sabit adalah anemia hemolitik berat yang terjadi akibat pewarisan gen hemoglobin sabit (HbS) yang menyebabkan molekul hemoglobin defektif (cacat).
  4. Anemia Defisiensi Besi
    Anemia defisiensi besi biasanya terjadi ketika  asupan besi dalam diet tidak mencukupi untuk sintesis hemoglobin, anemia jenis defisiensi besi adalah anemia yang sering terjadi diseluruh dunia.

    C. Etiologi

  1. Anemia Defisiensi Besi

  1. Kehilangan zat besi sebagai akibat perdarahan menahun, yang dapat berasal dari saluran cerna, saluran nafas, saluran genitalia wanita dan saluran kemih.
  2. Faktor nutrisi akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi yang tidak baik.
  3. Kebutuhan zat besi meningkat seperti pada prematurasi, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan.
  4. Gangguan absorpsi zat besi seperti gastrektomi dan kolitis kronik.
    b. Anemia Megaloblastik

  • Penyebab anemia megaloblastik yaitu :

  1. Defisiensi vitamin B12
  2. Defisiensi asam folat
  3. Gangguan metabolisme vitamin B12 dan asam folat
  4. Gangguan sintesis DNA

  • Faktor Resiko dari anemia megaloblastik yaitu :

  1. Jenis kelamin
  2. Usia
  3. Faktor keturunan
    c. Anemia Sel Sabit
        Merupakan jenis anemia yang diturunkan dari orang tua kepada anak mereka. Anemia ini terjadi akibat tidak terdapat cukup sel darah merah sehat untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Sel darah merah menjadi kaku dan lengket serta berbentuk seperti sabit.

  • Risiko mengalami anemia sel sabit semakin besar saat seseorang memiliki orang tua dengan gen pembawa.
  • Anemia sel sabit lebih umum terjadi pada keturunan Afrika, India, Mediterania, Arab Saudi, serta Amerika Selatan.
     d. Anemia Aplastik
         Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang untuk membentuk sel-sel darah. Penyebabnya bisa karena kongenital, idiopatik, kemoterapi, radioterapi dan toksin.
    D. Manifestasi Klinis
         Karena system organ yang terkena maka pada anemia dapat menimbulkan manifestasi klinis yang luas. Secara umum tanda dan gejala anemia yaitu:

  1. Hb menurun (< 10g/dl) trombositosis/ trombositopenia, dan pasitopenia
  2. Penurunan berat badan
  3. Takikardi, tekanan darah menurun, pengisian kapiler lambat, extremitas dingin, palpitasi, kulit pucat
  4. Mudah lelah
  5. Sakit kepala, pusing, kunang-kunang
    E. Patofisiologi

  1. Anemia Megaloblastik
    Asam folat disimpan sebagai senyawa yang disebut sebagai folat. Folat yang disimpan didalam tubuh jauh lebih kecil dari vitamin B12 dan dengan cepat mengalami deplesi ketika asupan folat dalam diet tidak memadai (dalam 4  bulan) defisiensi folat terjadi pada orang yang jarang memakan sayuran segar (tidak dimasak).
  2. Anemia Sel Sabit
    Molekul hemogblobin yang defektif (cacat) akan berbentuk sabit ketika terpajan dengan oksigen rendah, sel darah merah yang kaku dan panjang ini akan tersangkut dipembuluh darah kecil dan dapat menyumbat aliran darah ke  jaringan tumbuh, proses sabit menghabiskan beberapa waktu jika eritrosit terpajan kembali dengan jumlah oksigen yang tidak adekuat.
    F. Penatalaksanaan Medis

  1. Anemia Aplastik

  • Mereka yang berusia kurang dari 60th, sehat, dan menemukan donor kompatibel dapat disembuhkan dengan transplantasi sumsum tulang (BMT) atau dengan transplantasi sel induk darah perifer (PBSCT)
  • Penyakit ini juga bisa ditangani dengan terapi imunosupresif, yang umumnya menggunakan kombinasi globulin antitimosit (ATG) dan siklosporin atau androgen.
  • Terapi suportif memainkan peran penting dalam penatalaksanaan anemia aplastik. Setiap agens yang menganggu dihentikan, pasien didukung oleh transfusi paket sel darah (PRBC) dan trombosit sesuai kebutuhan.
      b. Anemia Defisiensi Besi

  • Uji specimen feses untuk darah samar/okulta
  • Individu berusia 50th atau lebih harus secara periodic melakukan pemeriksaan kolonoskopi, endoskopi, atau pemeriksaan sinar X pada saluran GI untuk mendeteksi ulserasi, gastritis, polip, atau kanker.
  • Berikan sediaan besi yang telah diresepkan, (Oral, Intramuscular (IM)    atau IV)
  • Minta pasien melanjutkan penggunaan sediaan besi selama 6 hingga      12 bulan.
      c. Anemia Megaloblastik
          Penatalaksanaan medis: defisiensi asam folat

  • Tingkatkan asupan asam folat dalam diet pasien dan berikan 1 mg asam folat disetiap hari nya
  • Berikan asupan asam folat per IM untuk sindrom malobsorpsi
  • Resepkan suplemen tambahan sesuai kebutuhan, karena jumlahnya dalam multi vitamin mungkin tidak adekuat untuk sepenuhnya menggantikan defisiensi cadangan tubuh.

          Penatalaksanaan medis: defisiensi vitamin B12

  • Berikan pengganti vitamin B12, vegetarian dapat mencegah atau mengatasi defisiensi dengan suplemen vitamin oral/susu.
  • Sejumlah kecil dosis vitamin B12 per oral dapat diserap dengan difusi aktif, sekali pun tidak ada faktor intrinsik, tetapi dosis besar (2mg/hari) diperlukan jika vitamin B12 akan diberikan secara oral.
  • Terapi vitamin B12 harus dilanjutkan seumur hidup, untuk mencegah kekambuhan anemia pernisiosa.

  • Resepkan asam folat untuk pasien alkoholisme selama mereka sering mengkonsumsi alkohol.
     d. Anemia Sel Sabit
         Terapi anemia sel sabit adalah focus dari riset berkelanjutan. Namun disamping penatalaksanaan agresif gejala dan komplikasi yang sama-sama penting, baru-baru ini terdapat beberapa modalitas terapi primes untuk penyakit sel sabit.

  • PBSCT: dapat menyembuhkan anemia sel sabit tetapi hanya dapat diterapkan untuk sebagian kecil pasien karena tidak adanya donor yang kompatibel atau karena kerusakan organ berat yang mungkin telah dialami oleh pasien adalah kontraindiksi untuk PBSCT
  • Terapi farmakologis
  • Terapi transfusi
  • Pantau fungsi pulmonal dan hipertensi pulmonal
  • Berikan asam folat untuk menyeimbangi kebutuhan sumsum tulang yang meningkat
  • Terapi suporatif untuk mencakup penatalaksanaan nyeri

  1. Komplikasi

  1. Pemeriksaan otot buruk
  2. Daya konsentrasi menurun
  3. Hasil uji perkembangan menurun
  4. Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun
  5. Sepsis
  6. Sensitifitas terhadap antigen donor yang berreaksi-silang menyebabkan perdarahan yang tidak terkendali
  7. Cangkokan vs penyakit hospes (timbul setelah pencangkokan sumsum tulang)
  8. Kegagalan cangkok sumsum
  9. Leukimia mielogen akut berhubungan dengan anemia fanconi.
                                                                                                                    

BAB III

KASUS ASUHAN KEPERAWATAN



Contoh Kasus Anemia :

Ny. R masuk RSUD Depok pada malam hari tanggal 20 Mei 2016 melalui ruang IGD, lalu masuk ruang rawat inap bedah. Keesokan harinya pada pukul 10.30 WIB dengan kesadaran Compos Mentis, dan keluhan utama pusing, klien mengeluh pandangan kabur, badannya terasa lemah, dan cepat lelah saat beraktivitas, klien tampak pucat, lemah, konjungtiva anemis dan akral klien dingin dan berkeringat, HB awal 6,1 gr/dl, CTR >3dtk, Klien mengatakan cemas dengan penyakitnya dan ingin cepat pulang. Hasil TTV: TD: 80/60 mmHg, N : 120 x/menit, RR : 22x/menit, S: 36,5°c. Saat di timbang berat badannya 62kg, klien mengatakan berat badan menurun karena tidak nafsu makan. Klien mengeluh mual dan muntah. Diagnosa Anemia.


PENGKAJIAN

Data Fokus

Data Subjektif
Data Objektif
1.        Klien mengeluh mual dan muntah
2.        Klien mengeluh lemas dan letih
3.        Klien mengeluh sakit kepala
4.        Klien mengeluh pandangan kabur
5.        Klien mengeluh cepat lelah saat beraktivitas
6.        Klien mengeluh tidak nafsu makan
7.        Klien mengatakan cemas dengan penyakitnya dan ingin cepat pulang

1.     TTV  :
         TD : 80/60 mmHg
          N : 120 x/menit
          RR : 22x/menit
         S : 37°c
2.     Kesadaran compos mentis
3.     HB awal 6,1 gr/dL
4.     CRT klien > 3 detik
5.     Anoreksia
6.     Konjungtiva anemis
7.     Klien tampak pucat
8.     Akral klien teraba dingin dan berkeringat
9.     BB menurun dari 64kg menjadi 62kg
10. Diagnosa Anemia


Analisa Data

No.
Data Fokus
Masalah
Etiologi
1
Data Subjektif:
Klien mengeluh:
-         Lemas dan letih
-         Pusing
-         Pandangan kabur
-         Cepat lelah saat beraktivitas
-         Tidak nafsu makan
Data Objektif:
-         TTV  :
         TD : 80/60 mmHg
          N : 120 x/menit
          RR : 22x/menit
          S : 37°c
-         Anoreksia
-         Hb awal 6,1 gr/dl
-         Konjungtiva anemis
-         Klien tampak pucat
-         Akral teraba dingin dan berkeringat
-         Diagnosa Anemia
Keletihan
Kondisi Fisiologis (Anemia)
2
Data Subjektif:
Klien mengeluh:
-         Lemas dan letih
-         Mual dan muntah
-         Cepat lelah saat beraktivitas
-         Tidak nafsu makan
Data Objektif:
-     TTV  :
         TD : 80/60 mmHg
          N : 120 x/menit
          RR : 22x/menit
          S : 37°c
-  Anoreksia
-   Konjungtiva anemis
-   Klien tampak pucat
-  Akral teraba dingin dan berkeringat
-  Diagnosa Anemia
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Faktor biologis

































3
Data Subjektif :
1.     Klien mengeluh lmah dan letih
2.     Klien mengeluh tidak nyaman saat beraktivitas
Data Objektif :
-         Klien terlihat pucat
-         TTV :
TD : 80/60 mmHg
          N : 120 x/menit
          RR : 22x/menit
         S : 37°c
Intoleran aktivitas
Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen



Diagnosa


Diagnosa
1.
Keletihan b.d Kondisi Fisiologis (Anemia)
2.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Faktor biologis
5.
Intoleran aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen



Intervensi

Hari/Tanggal, Jam
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi

Keletihan b.d kondisi fisiologis (anemia)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan perfusi jarigan adekuat dengan kriteria hasil :
1.     Klien tidak tampak pucat
2.     CRT < 3 detik
3.     Konjungtiva tidak anemis
Manajemen energi :
1.     Kaji status pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan konteks usia dan perkembangan
2.     Perbsiki defisit status fisiologis sebagai prioritas utama
3.     Tentutkan jenis dan banyak aktivitas yang dibutuhkan untuk menjaga ketahanan
4.     Monitor intake nutrisi untuk mengetahui sumber energi yang adekuat
Kolaborasi :
1.     Konsulkan dengan ahli gizi mengenai cara meningkatkan asupan energi dari makanan

Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Faktor biologis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3X24 jam, ketidakseimbangan nutrisi dapat teratasi, dengan kriteria hasil :
1.     Keseimbangan asupan dan haluaran cairan
2.     Nafsu makan bertambah
3.      Meminimalkan tingkat keparahan mual dan muntah
4.     Berat badan meningkat

Manajemen nutrisi :
1.     Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien
2.     Anjurkan pasien untuk memantau kalori dan intake makanan
3.     Anjurkan pasien terkait dengan kebutuhan makanan tertentu berdasarkan perkembangan atau usia
4.     Tawarkan makanan ringan yang padat gizi

Intoleran aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2X24 jam, intoleransi aktivitas dapat teratasi dengan kriteria hasil :
1. Klien dapat melakukan ambulasi
2. Penurunan tingkat keletihan
3. Peningkat kenyamanan lingkungan
Terapi aktivitas :
1.     Pertimbangkan kemampuan pasien dalam berpartisipasi melalui aktivitas fisik
2.     Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang diinginkan
3.     Bantu pasien memilih aktivitas
Kolaborasi :
1.     Kolaborasi dengan ahli fisik, okupasi dan terapis rekreasional dalam perencanaan dan pemantauan program aktivitas


BAB IV

PENUTUP



Kesimpulan

          Anemia adalah suatu kondisi konsentrasi hemoglobin kurang dari normal, anemia merefleksikan jumlah eritrosit yang kurang dari normal didalam sirkulasi akibatnya  jumlah oksigen yang dihantarkan ke jaringan tubuh juga berkurang. Anemia diklasifikasikan menjadi 4 yaitu Anemia Megaloblastik, Anemia Sel Sabit, Anemia Aplastik dan Anemia Defisiensi Besi. Anemia tersebut diklasifikasikan menurut etiologi dan manifestasi klinik nya.

Sedangkan tanda dan gejala umum anemia adalah Hb yang menurun (<10gr/dL), penurunan berat badan, badan terasa lemah dan letih, tekanan darah menurun, sering pusing, pengisian kapilernya lambat dan extremitas teraba dingin. Apabila penyakit ini tidak ditangani akan menyebabkan komplikasi, yaitu daya konsentrasi dan perkembangan menurun, dan sepsis.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Smeltzer, A. C., & Bare, B. G. 2002. Buku ajar keperawatan medical bedah Brunner & Suddart. (Agung Waluyo: Penerjemah). Ed. 8. Jakarta: EGC.
  2. Price, S. A., & Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. (Brahm U. Pendit: Penerjemah). Ed. 6. Jakarta: EGC.
  3. NANDA Internasional. 2015. NANDA International Inc. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015 – 2017, Edisi 10. Jakarta: EGC













































                                                                                                                                                                                        

Komentar

Posting Komentar